Aktivis Lingkungan Hidup Merehabilitasi Taman Wisata Angke Dengan Menanam Mangrove

Aktivis Lingkungan Hidup Merehabilitasi Taman Wisata Angke Dengan Menanam Mangrove

Aktivis lingkungan yang juga Co-Founder dan CEO https://www.warassehat.com/, Dinni Septianingrum, mengemukakan bahwa untuk mrehabilitasi mangrove Taman Wisata Alam Angke Kapuk di Penjaringan, Jakarta Utara, yang luas lahannya mencapai 99,82 hektare maka dibutuhkan tambahan sekitar 798.560 bibit tanaman mangrove.

Jika satu hektare lahan bisa ditanami paling tidak 10 ribu bibit , dan untuk bisa dinyatakan jumlah penanaman ideal, maka tinggal dikalikan dengan luas lahan di TWA Angke Kapuk yang mencapai 99,82 hektare, sehingga dibutuhkan 998.200 bibit mangrove.

TWA Angke Kapuk, dari 99,82 hektare yang efektif tertanami mangrove baru 20 persen. Jadi masih butuh 80 persen lagi (sekitar 798.560 bibit) untuk merehabilitasinya, kata Dinni pada kegiatan konservasi bertajuk Mangrove Project – Untuk Satu Bumi di TWA Angke Kapuk, Jakarta Utara, Sabtu (24/9).

Oleh karenanya, tambahan 500 bibit mangrove di Taman Wisata Alam Angke Kapuk Jakarta Utara dalam kegiatan Mangrove Project – Untuk Satu Bumi yang berlangsung serentak di lima lokasi yaitu Tangerang, Surabaya, Bali, dan Kalimantan Barat, Sabtu (24/9) akan diikuti dengan kegiatan-kegiatan berikutnya.

Mangrove Project – Untuk Satu Bumi di Jakarta memperoleh 500 bibit mangrove yang dikonservasi, sedangkan di Tangerang 1.500 bibit, Kalimantan Barat, Surabaya dan Bali masing-masing 1.000 bibit.

Untuk konservasi mangrove di TWA Angke menggunakan metode bronjong atau keranjang kawat diisi batu. Metode bronjong dipilih karena lebih cocok dengan karakter mangrove dan tanah, sedimentasi serta suhu dan cuaca yang ada di TWA Angke Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara.

Namun penanaman mangrove di empat wilayah lain menggunakan metode yang berbeda-beda, mengingat memiliki karakteristik sendiri-sendiri..

Di Mempawah (Kalimantan Barat) namanya Organic Coastal Defense atau bangunan pelindung pantai organik, di Surabaya Mangrove Conservation Center Wonorejo dan Tanjung Pasir (Tangerang) sama metodenya memakai Ajir Bambu dan sistem berjarak satu meter. Untuk di Akamo (Bali) dengan metode tanam sangkar atau cage planter.

Situs berita no 1, jenis-jenis mangrove yang mendominasi kawasan TWA Angke Kapuk antara lain Bidara (Sonneratia caseolaris), Warakas (Acrostichum aureum), Api-api (Avicennia marina), Cantigi (ceriops spp), Buta-buta (Excoecaria agallocha) dan Bakau (Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa).

Sedangkan jenis flora pantai atau rawa di antaranya adalah Waru Laut (Hibiscus tiliaceus), Bluntas (Pluchea indica), Mendongan (Scripus littoralis), Kedondong Laut (Polysia frutucosa), Flamboyan (Delonix regia), Kitower (Deris heterophyla) dan Duri Busyetan (Mimosa sp).

Kawasan seluas 99,82 hektare itu ditetapkan menjadi Taman Wisata Alam berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 667/Kpts-II/1995.
Kawasan TWA Angke terletak pada dataran rendah (mendekati pantai) dengan profil tanah datar, ketinggian 0 – 2 meter di atas permukaan laut. Jenis tanah adalah Alluvial Kelabu Tua dengan tekstur Lempung Liat Berdebu.